Tampilkan postingan dengan label Obyek Wisata. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Obyek Wisata. Tampilkan semua postingan

Jumat, 10 Juni 2011

Jembatan Ampera, karya siapa?

Jum'at pagi, ditemukan sehelai kertas di lorong yang berdebu, ternyata sebuah gambar jembatan Ampera. Tidak ada keterangan lain kecuali hanya gambar. Jadi jembatan Ampera ini karya siapa?

Kamis, 09 Juni 2011

Flying Fox di Hutan Kota Punti Kayu, Palembang

 Punti Kayu sebagai salah satu hutan kota terbaik di Indonesia, di antara wanginya pohon pinus, ternyata mempunyai sarana outbond flying fox yang diperuntukkan untuk anak-anak dan dewasa. Mungkin dimasa yang akan datang bisa ditambah lagi sarana outbond agar makin bervariasi

Fasilitas Outbond akan dibangun di Gua Putri


Fasilitas Gua Putri di Kabupaten OKU akan bertambah dengan akan dibangunnya fasilitas outbond.
Kepala Dinas Pemuda Olahraga Kebudayaan dan Pariwisata OKU Aufa S Syarkomi menjelaskan, perkebunan kelapa sawit Mitra Ogan akan membangun fasilitas outbond di lokasi wisata Gua Putri.
Menurut Aufa, PTP Mitra Ogan yang diwakili oleh Site Managernya Chaerul SP bersama pihak Universitas Baturaja sudah meninjau langsung ke lokasi yang dihadiri juga oleh Prof.Dr.Hj.Isnawijayani Hendra, Msi.
Tahap pertama ini kata Aufa akan dibangun fasilitas outbond dulu seperti, flying fox, rintangan, jaring spiderman dan permainan lainnya. Tahap berikutnya, baru dilanjutkan dengan fasilitas lainnya.
Wacananya, setelah tersedia fasilitas outbond akan dijadikan tempat orientasi untuk mahasiswa baru, siswa dan CPNS Pemkab OKU bahkan bisa dimanfaatkan oleh pihak luar Kabupaten yang berminat.
Dilokasi akan dijadikan tempat outbond untuk melatih kedisiplinan, cinta lingkungan dan sekaligus bisa mempromosikan obyek wisata unggulan kabupaten OKU, Gua Putri, Gua Harimau dan obyek wisata disekitarnya.
Menurut Aufa phak PTP Mitra Ogan yang survey lokasi sangat antusias dan sudah meminta perwakilan dari pecinta alam JEJAK agar menghitung dana yang dibutuhkan untuk menyiapkan fasilitas outbond di obyek wisata Gua Putri.

Lematang River Plaza



Pemkab Lahat akan membuat pelataran (plaza) di tepian sungai Lematang, tepatnya di desa Banjar Negara. Pelataran tersebut akan dibuat mirip Plaza Benteng Kuto Besak (BKB) di Palembang.
Diharapkan dengan adanya pelataran akan memberikan kenyamanan dengan harapan akan meningkatkan jumlah pengunjung yang akan menikmati indahnya sungai Lematang.
Bupati Lahat H.Saifudin Aswari menjelaskan, pihaknya berencana akan mengadaptasi konsep seperti Benteng Kuto Besak di Palembang. "Jika sudah jadi maka akan seperti BKB di Palembang. Warga juga bisa bersantai di sini menikmati indahnya sungai Lematang," ujar Aswari.
Untuk mewujudkan rencana itu Pemkab akan bekerja sama dengan semua pihak terkait, terutama warga yang menjadi pemilik lahan yang akan dibangun pelataran. Kedepan diharapkan tidak terjadi konflik, bahkan dapat memberikan manfaat bersama baik untuk warga, pemerintah, maupun pengunjung.
Jika itu terwujud, maka ia yakin sungai Lematang akan menjadi tujuan wisata baru. Berkaca pada BKB di Palembang, setiap pagi, sore, bahkan malam hari, pengunjung tak henti berdatangan untuk menikmati indahnya sungai Musi. "Jika penyelenggaraan konser-konser musik yang biasanya diadakan di lapangan eks MTQ, maka nanti bisa dilaksanakan di tepian sungai Lematang.

Senin, 30 Mei 2011

Taman Nasional Sembilang

Taman Nasional Sembilang (TNS) yang terletak di pesisir timur Provinsi Sumatera Selatan merupakan kawasan lahan basah yang sebagian besar terdiri dari hutan mangrove dengan hutan rawa air tawar dan hutan rawa gambut yang terletak di belakangnya. Hutan mangrove yang meluas hingga 35 km ke arah darat (hulu) di kawasan ini merupakan sebagian kawasan hutan mangrove terluas yang tersisa di sepanjang pantai timur pulau Sumatera.

Kawasan TN Sembilang ini didasarkan pada rekomendasi Gubernur Provinsi Sumatera Selatan (Surat Rekomendasi No 522/5459/BAPPEDA-IV/1998), dan SK Menteri Kehutanan pada tanggal 15 Maret 2001, No. 76/Kpts-II/2001 tentang Penunjukan Kawasan Hutan di Provinsi Sumatera Selatan, yang didalamnya tercantum penunjukan kawasan Sembilang menjadi Taman Nasional. Hal ini telah ditindaklanjuti oleh Gubernur Provinsi Sumatera (berdasarkan surat no 522/5128/I tanggal 23 Oktober 2001), dengan meminta penetapan kawasan Taman Nasional Sembilang dengan luas 205.750 ha.
        Berdasarkan Perda Provinsi Sumatera Selatan Nomor 5 tahun 1994 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi (RTRWP), kawasan seluas 205.750 ha yang ditunjuk sebagai Taman Nasional ini merupakan penggabungan dari kawasan Suaka Margasatwa (SM) Terusan Dalam (29.250 ha), Hutan Suaka Alam (HSA) Sembilang seluas 113.173 ha, Hutan Produksi Terbatas (HPT) Sungai Terusan Dalam seluas 45.500 ha dan kawasan perairan di sekitarnya seluas 17.827 ha. Posisi geografis kawasan yang ditunjuk sebagai TN Sembilang ini terdapat pada 104011’-104094’ Timur dan 1.630-2.480 Selatan. Secara administratif pemerintahan termasuk wilayah kerja Desa Sungsang IV, Kecamatan Banyuasin II, Kabupaten Musi Banyuasin (MUBA), Provinsi Sumatera Selatan; sedangkan secara administratif kehutanan berada di bawah Resort Terusan Dalam dan Resort Sembilang, Sub Seksi KSDA wilayah MUBA, Balai Konservasi Sumberdaya Alam Sumatera Selatan.
           Kawasan TN Sembilang yang sebagian besar teridiri dari kawasan mangrove dengan banyak muara sungai dan dataran lumpur yang luas, merupakan kawasan pesisir yang subur dan kaya akan keanekaragaman hayati. Kawasan ini merupakan habitat bagi sejumlah spesies penting/terancam seperti Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae), Macan Dahan (Neofelis nebulosa), Beruang Madu (Helarctos malayanus), Lumba-lumba Tanpa-sirip Punggung (Neophocaena phocaenoides), Buaya Muara (Crocodylus porosus), serta lebih dari 32 spesies burung air, termasuk spesies yang status populasinya rentan (vulnerable) di dunia seperti Bangau Bluwok (Mycteria cinerea), Bangau Tontong (Leptoptilos javanicus), dan Trinil-lumpur Asia (Limnodromus semipalmatus). Dataran lumpur yang luas di kawasan ini merupakan habitat persinggahan bagi ribuan burung air migran terutama pada bulan Oktober hingga April. Hutan mangrove yang ada juga merupakan habitat yang subur bagi perikanan (ikan dan udang).
         Berdasarkan survei lapangan (contoh: Silvius 1986; Danielsen & Verheught 1990) yang memperlihatkan pentingnya nilai ekologi kawasan pesisir antara Banyuasin dan sungai Benu, kawasan Sembilang diusulkan menjadi kawasan Suaka Margasatwa dengan kawasan seluas 387.500 ha yang meliputi hutan rawa air tawar, hutan rawa gambut, hutan mangrove, dan dataran lumpur (Danielsen dan Verheugt 1990); dan pada tanggal 12 Juli 1998, Kepala Kanwil Kehutanan Sumatera Selatan telah mengajukan surat perihal rekomendasi rencana penetapan Taman Nasional Sembilang kepada Gubernur provinsi Sumatera Selatan. Berdasarkan surat ini, Gubernur menyetujui rekomendasi tersebut (Surat Gubernur Provinsi Sumatera Selatan No 522/5459/Bap-10/98, tanggal 14 Desember 1998).
        Luas kawasan Taman Nasional Sembilang mencakup 205.750 ha (berdasarkan RTRW Propinsi Sumatera Selatan; SK Menteri Kehutanan No 76/Kpts-II/2001, tanggal 15 Maret 2001), yang sebagian besar mencakup hutan mangrove di sekitar sungai-sungai yang bermuara di teluk Sekanak dan teluk Benawang, Pulau Betet, Pulau Alagantang, Semenanjung Banyuasin serta perairan di sekitarnya. Kawasan ini merupakan penggabungan kawasan Suaka Margasatwa (SM) Terusan Dalam (29.250 ha), Hutan Suaka Alam (HSA) Sembilang seluas 113.173 ha, Hutan Produksi Terbatas (HPT) Sungai Terusan Dalam seluas 45.500 ha dan kawasan perairan di sekitarnya seluas 17.827 ha.
         Secara geografis, kawasan yang ditunjuk sebagai Taman Nasional Sembilang berbatasan :- di sebelah Utara dengan Sungai Benu dan batas Provinsi Jambi- di sebelah Timur dengan Selat Bangka, Sungai Banyuasin- di sebelah Selatan dengan Sungai Banyuasin, Sungai Air Calik, dan Karang Agung- di sebelah Barat dengan Hutan Produksi wilayah ex HPH PT Riwayat Musi Timber dan PT. Sukses Sumatra Timber (saat ini termasuk wilayah INHUTANI V); dan juga kawasan transmigrasi (Karang Agung Tengah, Karang Agung Ilir).

Aksesibilitas
Untuk menjangkau kawasan TN Sembilang dapat ditempuh melalui jalur kapal motor (speed boat) 40PK selama ± 2 jam perjalanan dari ibukota kecamatan Banyuasin II (Sungsang) atau ± 4 jam dari ibukota provinsi Sumatera Selatan (Palembang).

Topografi
Berdasarkan Peta Rupa Bumi Indonesia Lembar 1013 (skala 1:250.000) yang diterbitkan dari BAKOSURTANAL, kawasan TN Sembilang memiliki topografi datar.

Geologi, Geomorfologi dan Tanah
TN Sembilang merupakan bagian dari lahan rawa yang lebih luas dengan formasi sedimen Palembang. Selama era Pleistocene, kawasan tersebut terdapat pada tepi lempeng Sunda, dan pada era Holocene kawasan tersebut digenangi air akibat naiknya temperatur bumi (dan juga naiknya muka air laut). Saat ini, kawasan tersebut ditutupi oleh tanah liat marin muda dan sedimen sungai. Sebagian besar kawasan ini didominasi oleh sedimen alluvia (termasuk sedimen marin dan sedimen organik di pesisir, dan deposit organik, biasanya sebagai kubah gambut jauh di daratan). Kubah gambut terdalam terdapat di dekat perbatasan provinsi Jambi, tepatnya di antara sungai Terusan Dalam dan Sungai Benu. Elevasi kawasan TN Sembilang berkisar antara 0 hingga 20 m dpl, dengan variasi pasang surut hingga 3,5 m (Danielsen & Verheught 1990). Tanah umumnya terdiri dari histosol (termasuk typic haplohemists, typic hydraquents, typic sulfaquents, histic sulfaquent, sodic psammaquents) dan inceptisol (termasuk sulfic endoaquepts dan typic sulfaquepts).

Iklim
Iklim tropis dengan rata-rata curah hujan pertahun sebesar 2.455 mm (1989-19 melingkupi kawasan TN Sembilang. Musim kering biasanya terjadi di bulan Mei hingga Oktober, sedangkan musim hujan dengan angin baratdaya yang kuat terjadi di bulan November hingga April. Iklim dapat dijabarkan sesuai dengan Z
ona C : 5 hingga 6 bulan berturut-turut bulan basah dan 3 bulan atau kurang berturut-turut bulan kering (Whitten et al. 2000:15, menurut Oldeman et al. 1979).

Gua Putri

Ingin merasakan petuangan alam di Palembang? Tak ada salahnya jika anda mencoba mengeksplorasi Gua Putri, sebuah goa dengan panjang sekitar 160an meter, berlebar hingga 20an meter dan tingginya sekitar 20 meter. Stalaktit dan stalakmit di dalam Gua Putri sangatlah indah, dan mengalir sebuah sungai yang merupakan anak sungai Semuhun dan bermuara di Sungai Ogan, Sumatera Selatan. Gua Putri berlokasi di Desa Padang Bindu, Kecamatan Semidang Aji, Ogan Komering Ulu.
Gua Putri saat ini sedang dibangun oleh pemerintah daerah OKU dan menelan biaya yang tidak sedikit, yaitu sampai Rp. 6 Miliar.  Pembangunan tersebut adalah untuk melengkapi sarana dan prasarana, sehingga saat ini wisatawan dapat menikmati keindahan Gua Putri dengan fasilitas yang lebih lengkap. Telah ada cottage, aula, museum, Mushola, panggung kesenian, toilet dan fasilitas pendukung lainnya.
Kawasan wisata Gua Putri memiliki luas sekitar 6 hektar. Jalan dan jembatan menuju objek wisata sepanjang 1,5 kilometer sedang dibangun. Jalan beton menuju mulut gua selebar 2 meter juga sudah dibangun dalam kondisi baik, sehingga wisatawan dengan mudah dapat masuk ke dalam gua. Tinggi gua yang relatif tinggi, membuat pengunjung Goa Putri tak perlu merangkak atau menunduk ketika berjalan di dalam gua.
Di dalam gua, penerangan sudah ada, namun karena dinding gua gelap, penerangan tak mampu menjangkau hingga sudut gua. Bau kotoran kelelawar akan terasa ketika anda memasuki mulut gua, dan banyak kelelawar bergelantungan di dalam gua. Stalaktit dan stalakmit sangat indah terlihat ketika Anda mencapai bagian tengah gua. Gemericik air sungai yang mengalir di dalam gua juga terdengar indah. Banyak yang meyakini sungai tersebut berkhasiat menyembuhkan penyakit.
Di dalam Gua Putri pernah ditemukan tulang manusia, tulang binatang dan pecahan gerabah, yang diyakini adalah peninggalan prasejarah. Selain itu, ada pula kapak batu dan beberapa perkakas kuno yang menunjukkan gua tersebut pada saat masa prasejarah dibuni oleh manusia.

Goa Napalicin

Goa Napalicin terletak di Desa Napalicin, Kecamatan Ulu Rawas, Kabupaten Musi Rawas (Mura), Provinsi Sumatra Selatan. Anda harus mencapai kota Lubuk Linggau terlebih dahulu untuk menuju Goa Napalicin. Lubuk Linggau, ibu kota Kabupaten Mura, berjarak sekitar 350 km dari kota Palembang. Lubuk Linggau juga bisa ditempuh dengan perjalanan sekitar 150 km dari kota Bengkulu.
Jika Anda memasuki kawasan Goa Napalicin, Anda akan disuguhi dengan nuansa bebatuan alami. Gua ini memiliki pintu masuk seluas sekitar 15 meter. Setelah melewati pintu masuk gua, Anda dapat melihat bagian lantai dinding dan atas gua yang berbentuk stalagtit dan stalagnit. Anda dapat mengamati langsung stalagtit dan stalagnit yang terbentuk secara alami sejak ratusan, bahkan ribuan tahun lalu.
Setelah mencapai Lubuk Linggau, Anda harus menempuh lagi perjalanan darat sejauh sekitar 135 km sebelum bisa menikmati objek wisata ini. 100 km jalan pertama merupakan jalan mulus Jalan Lintas Sumatera, namun 35 km selanjutnya adalah jalan berbatuan dan tanah sehingga jarak dari Lubuk Linggau ke Goa Napalicin harus ditempuh selama sekitar lima jam.
Jika Anda memasuki kawasan Goa Napalicin, Anda akan disuguhi dengan nuansa bebatuan alami. Gua ini memiliki pintu masuk seluas sekitar 15 meter. Setelah melewati pintu masuk gua, Anda dapat melihat bagian lantai dinding dan atas gua yang berbentuk stalagtit dan stalagnit. Anda dapat mengamati langsung stalagtit dan stalagnit yang terbentuk secara alami sejak ratusan, bahkan ribuan tahun lalu.
Sejak didirikan tempat peristirahatan “Rawas River Lodge” atau dalam bahasa Belanda Rawas River-Lodge bij het dorpje Surulangun, in het Zuid Sumatraanse tropische regenwoud, perkembangan sektor pariwisata di Kabupaten Musi Rawas sungguh sangat menjanjikan. Dalam kurun 1992-1998, ribuan wisatawan berkunjung ke Goa Napalicin. Bahkan, Kecamatan Ulu Rawas dan Rawas Ulu menjadi kawasan wisata yang paliing ramai kedua setelah Pulau Bali.
Menurut legenda yang dipercaya warga setempat, dulunya bukit tersebut adalah sebuah kapal yang terdampar. Kemudian seorang pengembara bernama Serunting Sakti atau Si Pahit Lidah melewati daerah itu. Melihat kapal terdampar, Si Pahit Lidah berusaha naik ke atasnya namun tidak berhasil. Si Pahit Lidah lalu bersumpah, dan kemudian sumpah itu membuat kapal berubah menjadi batu.
Goa Napalicin berada pada ketinggian sekitar 20 meter dari jalan, sehingga Anda harus sedikit berjalan menanjak untuk mencapai pintu masuk Goa Napalicin. Setelah memasuki gua itu, Anda akan melewati lorong sepanjang 1,5 kilometer. Lorong itu menghubungkan empat bukit, yaitu Bukit Batu, Bukit Semambang, Bukit Payung, dan Bukit Karang Nato. Lorongnya tidak luas, sehingga Anda harus merunduk, bahkan tiarap, agar bisa melewati lorong tersebut. Jarak bukit itu dari ibu kota kecamatan sekitar 12 km, melalui jalan darat maupun sungai. Hingga kini, di dalam Goa Napalicin masih tersimpan sejuta misteri.
Di bagian depan, wisatawan akan disuguhi budaya setempat berupa tarian dan lagu daerah. Diiringi dengan biola, seorang tetua akan menghibur pengunjung disertai anak-sanak yang membawakan tarian penyambutan tamu. Setelah memasuki lorong-lorong gua, titik-titik air dari atas gua mungkin akan mengenai tubuh Anda. Sesekali kelelawar akan beterbangan. Pada beberapa bagian gua memang gelap sehingga warga setempat memasang beberapa obor bambu. Di bawah cahaya temaram, keindangan berbagai sisi gua makin berbinar.
Berbagai bentuk stalagnit dan stalagtit bisa terlihat di dalam gua. Anda butuh lebih dari empat jam untuk menikmati seluruh pemandangan di berbagai sudut gua. Pada beberapa bagian, cahaya menembus gua, terutama antara bukti yang satu dengan bukit yang lain. Celah-celah batu membiaskan bentuk artistik.

Minggu, 15 Mei 2011

Tangga Seribu

Jumat, 18 Maret 2011

Sungai Musi

Sungai Musi adalah sebuah sungai yang terletak di provinsi Sumatra Selatan, Indonesia. Dengan panjang 750 km, sungai ini merupakan yang terpanjang di pulau Sumatera dan membelah Kota Palembang menjadi dua bagian. Jembatan Ampera yang menjadi ikon Kota Palembang pun melintas di atas sungai ini. Sejak zaman Kerajaan Sriwijaya hingga sekarang, sungai ini terkenal sebagai sarana transportasi utama bagi masyarakat. Di tepi Sungai Musi terdapat Pelabuhan Boom Baru dan Museum Sultan Mahmud Badaruddin II.
Geografi Sungai Musi membelah Kota Palembang menjadi dua bagian kawasan: Seberang Ilir di bagian utara dan Seberang Ulu di bagian selatan. Sungai Musi, bersama dengan sungai lainnya, membentuk sebuah delta di dekat Kota Sungsang.
Sungai Musi dengan Jembatan Ampera sebagai latar belakang Mata airnya bersumber di daerah Kepahiang, Bengkulu. Sungai Musi disebut juga Batanghari Sembilan yang berarti sembilan sungai besar, pengertian sembilan sungai besar adalah Sungai Musi beserta delapan sungai besar yang bermuara di sungai Musi. Adapun delapan sungai tersebut adalah : 1. Sungai Komering 2. Sungai Rawas 3. Sungai Leko 4. Sungai Lakitan 5. Sungai Kelingi 6. Sungai Lematang 7. Sungai Semangus 8. Sungai Ogan

JC Ebi Potato

JC Ebi Potato
JC Ebi Potato adalah kripik kentang ebi yang terbuat dari kentang asli. Kentang mempunyai banyak khasiat, Di antaranya potassium, vitamin C (sumber kedua selepas oren), membekalkan karbohidrat kompleks dan fiber atau gentian kepada gula darah (blood sugar) dan pengawalan tekanan darah. Ia juga mengandungi vitamin B1, B2 dan B3 serta sedikit kandungan protein dan zat besi. Kini kentang dapat dinikmati dengan kerenyahan dan kegurihan JC Ebi Potato. kriuk-kriuk nya terasa sekali.Selain anda dapat memperoleh segala kelebihan manfaat kentang, anda juga dapat memasarkan produk kami.
 

About Me

Foto Saya
Handree
Lahir di Bandar Lampung, besar di Palembang, Jakarta. Sekarang tinggal di Palembang, Sumatra Selatan, INDONESIA
Lihat profil lengkapku

Blog Archive

Trend Counter

South Sumatra Travel Copyright © 2010 Blogger Template Sponsored by Trip and Travel Guide